Rabu, 20 Juni 2012

JANGAN PANIK

Saat hubungan suami istri berjalan baik, mereka akan berkata "kami pasangan serasi."
Saat serasi mereka suka berduaan, berbicara dengan mudah dan tertawa bersama,
melayani satu sama lain dengan senang hati. Tetapi ketika perselisihan mulai muncul,
mereka menjadi panik dan berpikir "inilah kehancuran pernikahanku, tidak ada lagi
jalan keluar selain cerai."
         Keserasian adalah salah satu proses dalam pernikahan. Ini adalah kesatuan yang
di bicarakan Alkitab (Kej.2:24). Karena itu apabila ketidakserasian mulai muncul,
jangan berpikir "inilah kehancuran", tetapi pikirkan ini sebagai kesempatan
membuktikan komitmen sumpah pernikahan di hadapan Tuhan, pendeta, jemaat,
keluarga dan pasangan. Daripada berpikir pada hal-hal negatif, lebih baik berfokus
pada hal-hal positif, "Walaupun aku dan istriku dalam kesulitan, kami memiliki
komitmen yang akan membuat kami berhasil mengatasi ketidakserasian dan kembali
dalam kesatuan." Demikin yang seharusnya kita katakan.
         Teladanilah sikap Kaleb dan Hosea bin Nun (Yosua), yang tetap berpikir positif
dalam menyikapi masalah besar yang akan dihadapi bangsa Israel.
Mereka meyakinkan bangsa ini kalau Tuhan sudah menjanjikan Tanah Kanaan akan
menjadi milik mereka, dalam keadaan sesulit apapun janji Tuhan pasti di genapi.
         Demikianlah saudaraku, jika kehendak Tuhan pernikahan adalah kesatuan
maka dalam masalah apapun pasti ada jalan keluarnya. Tuhan tidak pernah
merancangkan pernikahan untuk di hancurkan.

Sabtu, 09 Juni 2012

IMAN SEGENGGAM TEPUNG

Kalau kita ada dalam posisi janda ini, tentu kita berpikir seribu kali untuk memberikan
segenggam tepung terakhir kita pada orang lain; sekalipun mungkin dia hamba Tuhan
yang besar. Janda Sarfat ini tahu jelas kalau dia memberikan tepung terakhirnya
kemungkinan besar dia dan anaknya akan mati kelaparan. Tapi dia memilih jalan iman.
Karena itu, dia tidak ragu sedikitpun ketika Elia menyuruh dia kembali ke dapur untuk
membuat roti untuk dia dan putranya sekalipun dia tahu bahwa sebenarnya ia sudah
tidak mempunyai tepung lagi. Itulah iman!
      Begitulah cara iman bekerja. Ia tak bisa di karantina oleh hal-hal yang bisa kita lihat,
kecuali kita mengizinkannya. Ia juga tak bisa di kerangkeng dengan hitung-hitungan
matematika yang sukar. Iman bekerja dengan begitu sederhana.
Hanya dengan segenggam tepung, Janda Sarfat terpelihara hidupnya dengan luar biasa.

Jumat, 08 Juni 2012

RUMAH YANG MENYENANGKAN

Rumah bukanlah 'medan pertempuran' antara suami istri, orang tua anak atau anak
dengan anak. Tetapi rumah adalah tempat persekutuan kasih dan kemesraan.
Dalam suasana kekeluargaan dan keramahan, anak-anak dapat berkembang dan
bertumbuh dengan baik. Anak-anak yang lebih betah berada di luar rumah,
salah satu alasannya karena mereka tidak mendapatkan kedamaian di rumah.
Mereka kesepian karena orang tua yang lebih menaruh perhatian lebih pada
pekerjaan dibandingkan kepada mereka.
       Pengalaman keluarga Ishak dapat kita jadikan pelajaran berharga mengenai
rumah sebagai medan pertempuran. Sikap Ishak dan Ribka dalam memandang
kedua anak kembarnya, yaitu Esau menjadi anak ayah dan Yakub menjadi anak ibu,
hampir membawa pertumpahan darah antar saudara. Yakub menjadi seorang penipu
karena menipu dan mencuri berkat kesulungan Esau, dan Esau hendak membunuh
adiknya.
      Dari pengalaman keluarga Ishak, kita kita melihat betapa berbahayanya rumah
yang dijadikan medan pertempuran. Karena itu usahakan kita menciptakan rumah
yang kita tinggali bersama istri dan anak-anak menjadi rumah yang menyenangkan,
dimana penghuninya hidup saling mengasihi dan saling menghormati.
       Saudaraku, suasana rumah yang menyenangkan akan kita alami jika Yesus
hadir dan bertahta sebagai Raja dalam keluarga kita. Ketika Yesus menjadi Raja
dalam keluarga kita maka setiap masalah apapun baik antar suami dan istri,
orang tua dan anak, maupun anak dengan anak akan diselesaikan
dengan baik, penuh damai dan sukacita.

Rabu, 06 Juni 2012

"HALELUYA"

Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya!
 Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya,
 pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala,
 pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian,
pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting,
pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!
      Haleluya!

"MENGALAH UNTUK MENANG"

Mengalah? Bukan hal yang mudah. Apalagi mengalah terhadap seseorang yang
bener-bener salah. Sebagai pengikut Kristus tidak hanya di perintahkan untuk
mengalah dalam perselisihan namun memberikan pipi kanan jika pipi kiri
ditampar (Matius 5:39).
      Sekalipun mengalah bukan hal yang mudah, tetapi dengan mengalah akan
membuat seseorang menang dalam banyak hal. Menang atas keakuan,
menang atas dosa dan menang atas kejahatan. Untuk bisa mengalah diperlukan
kerendahan hati, karena orang yang rendah hati akan ditinggikan Tuhan
(Mat.23:12) dan Tuhan sendiri akan membela perkaranya.
     Sebaliknya orang yang tidak mau mengalah adalah orang sombong yang
menganggap dirinya benar sehingga tidak bisa melihat kesalahannya sendiri.
Seperti halnya orang yang melihat selumbar pada mata sesamanya, tetapi
balok pada matanya sendiri tidak ia lihat (Matius 7:3).
     Saudaraku, membuka hati dan mengijinkan kasih Kristus mengalir dan
 memenuhi hati adalah langkah bijak yang membuat seseorang mudah mengalah
dalam perselisihan. Karena hanya hati yang penuh kasih Kristus yang akan
mengampuni dan melupakan kesalahan. Hati yang penuh kasih Kristus adalah
hati yang tidak menyimpan dendam, kesalahan dan menginginkan lawannya
celaka, sebaliknya menginginkan lawannya bahagia. Mengalah bukan
berarti dikalahkan, tetapi mengalah untuk menjadi pemenang.