Kalau kita ada dalam posisi janda ini, tentu kita berpikir seribu kali untuk memberikan
segenggam tepung terakhir kita pada orang lain; sekalipun mungkin dia hamba Tuhan
yang besar. Janda Sarfat ini tahu jelas kalau dia memberikan tepung terakhirnya
kemungkinan besar dia dan anaknya akan mati kelaparan. Tapi dia memilih jalan iman.
Karena itu, dia tidak ragu sedikitpun ketika Elia menyuruh dia kembali ke dapur untuk
membuat roti untuk dia dan putranya sekalipun dia tahu bahwa sebenarnya ia sudah
tidak mempunyai tepung lagi. Itulah iman!
Begitulah cara iman bekerja. Ia tak bisa di karantina oleh hal-hal yang bisa kita lihat,
kecuali kita mengizinkannya. Ia juga tak bisa di kerangkeng dengan hitung-hitungan
matematika yang sukar. Iman bekerja dengan begitu sederhana.
Hanya dengan segenggam tepung, Janda Sarfat terpelihara hidupnya dengan luar biasa.
segenggam tepung terakhir kita pada orang lain; sekalipun mungkin dia hamba Tuhan
yang besar. Janda Sarfat ini tahu jelas kalau dia memberikan tepung terakhirnya
kemungkinan besar dia dan anaknya akan mati kelaparan. Tapi dia memilih jalan iman.
Karena itu, dia tidak ragu sedikitpun ketika Elia menyuruh dia kembali ke dapur untuk
membuat roti untuk dia dan putranya sekalipun dia tahu bahwa sebenarnya ia sudah
tidak mempunyai tepung lagi. Itulah iman!
Begitulah cara iman bekerja. Ia tak bisa di karantina oleh hal-hal yang bisa kita lihat,
kecuali kita mengizinkannya. Ia juga tak bisa di kerangkeng dengan hitung-hitungan
matematika yang sukar. Iman bekerja dengan begitu sederhana.
Hanya dengan segenggam tepung, Janda Sarfat terpelihara hidupnya dengan luar biasa.


.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar